27 April 2017

Lumba-lumba: Kang Dedi, Tolong Saya lah

Lumba-lumba adalah mamalia laut yang sangat cerdas, selain itu sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya sangat kompleks. Sehingga banyak teknologi yang terinspirasi dari lumba-lumba. Dan masih banyak fakta lainnya bisa kamu cari sendirilah.

Dan menurut saya Lumba-lumba merupakan salah satu makhluk Tuhan yang sangat baik dan lucu. Makhluk Tuhan lho, baik dan lucu pula.
Kenapa saya bilang baik?
Aksi Penyelamatan Lumba-lumba, klik disini
 
Tuh, saya carikan informasi dari beberapa media kredibel, tentang bagaimana makhluk ini membantu, menolong atau menyelamatkan hewan lain, bahkan manusia, dalam kondisi mencekam. Udah saya cariin, masa harus saya bacain juga.
Kenapa saya bilang lucu?
Coba lihat poto poto dibawah ini.


Yah bisa kamu lihat bentuk tubuh dan parasnya. Walau pun dia memiliki gigi yang runcing, ia terbilang jarang menunjukan itu untuk menakut-nakuti.


Yups, saya kembali melihat makhluk sebaik, selucu dan secerdas lumba-lumba di eksploitasi demi sebuah hiburan. Dan itu terjadi LAGI di Purwakarta.


Saya pikir kamu sudah tau atau pernah baca tentang bagaimana sih kondisi Lumba-lumba saat dijadikan sebuah hiburan, perlakuan apa sih yang dia dapat untuk bisa tunduk pada perintah pengelolanya. Berikut beberapa informasi yang saya rakum dari brilio.net

Kecerdasan dan kelucuan Lumba-lumba dimanfaatkan beberapa manusia, dengan cara menyakitinya, demi menghibur manusia dengan alasan edukasi pada anak-anak. Lalu edukasi seperti apa yang dihasilkan dari aksi Lumba-lumba bermain bola, melompati lingkaran api?

Dikota-kota besar, aksi sirkus Lumba-lumba atau topeng monyet sudah banyak yang menolak. Lalu kenapa di Purwakarta masih ada? Tidak lain karena ada yang memberi ijin. Padahal Purwakarta sekarang sudah banyak yang mengenal, banyak tempat hiburan yang diciptakan Pemerintah Purwakarta dengan konsep mencintai alam, dan menghargai sejarah pada era digital, bahkan hiburan dengan budget yang luar biasa namun tetap di gratiskan, kurang baik apa? seperti Taman Air Mancur Sribaduga, Museum Diorama dan masih banyak yang lainnya. Apa itu semua masih kurang menghibur?

Jika pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa, maka cara sederhana kita adalah memberikan edukasi pada anak-anak bahwa melihat Lumba-lumba aksi dilaut lepas lebih indah daripada melihatnya di tempat sirkus.



Jadi dengan tidak membeli tiket acara itu merupakan bentuan kecil kita untuk tidak mengurangi keberadaan Lumba-lumba di alam ini. Lahh kan itu abang-abangnya cari rezeki? Saya rasa masih banyak cara lain.

Sekali lagi, Lumba-lumba itu lucu, cerdas, dan baik. Jangan sampai karena dipermainkan diruang sirkus dia berkata "Taee nih manusia, air susu dibalas air klorin"

Beberapa hewan bahkan manusia sudah merasakan pertolongannya. Mungkin satu hal yang gak bisa dibantu Lumba-lumba pada manusia, bantu bayarin cicilan KPR. Eh mungkin itu juga alasan abang-abang panitia sirkus, karena Lumba-lumba bisa bantuin bayar cicilan dengan cara menyakitinya.

Saya dan beberapa teman di komunitas Stand Up Comedy Purwakarta mewakili perasaan Lumba-lumba yang ingin mengutarakan. Lumba-lumba: "Kang Dedi Tolong saya lah"